The Intern dan Kesalahpahaman Kita terhadap Pegawai yang Sudah Berumur

Ada satu adegan menarik dalam film The Intern ketika Ben Whittaker, seorang duda berusia 70 tahun, masuk ke kantor startup yang isinya anak-anak muda semua. Kantornya penuh meja terbuka, sepeda di dalam ruangan, orang-orang yang jalan cepat sambil bawa laptop, dan suasana yang seolah berkata, “Kalau umurmu sudah kepala empat, mungkin kamu salah alamat.”

Ben datang sebagai intern. Magang.

Ya, magang. Di usia ketika sebagian orang bahkan sudah sibuk mencari promo vitamin sendi.

Awalnya semua orang memandangnya seperti barang antik yang nyasar ke toko elektronik. Mereka sopan, tentu saja. Tapi sopan yang jenisnya, “Wah, lucu juga ya ada bapak-bapak di sini.”

Namun seperti banyak hal dalam hidup, kesan pertama sering kali kalah oleh kenyataan.

Lambat laun Ben justru menjadi orang yang paling dicari ketika ada masalah. Bukan karena ia paling jago teknologi. Bukan juga karena ia paling produktif secara angka. Melainkan karena ia membawa sesuatu yang jarang dimiliki banyak orang muda: pengalaman hidup.

Dan anehnya, di dunia kerja hari ini, pengalaman sering kali dianggap kurang seksi dibanding kemampuan mengoperasikan aplikasi terbaru.

Obsesi Dunia Kerja terhadap yang Muda

Entah sejak kapan, dunia kerja modern memiliki hubungan yang agak berlebihan dengan kata “muda”.

Lowongan pekerjaan mencari kandidat yang energik. Perusahaan bangga menyebut rata-rata usia karyawannya 27 tahun. Startup berlomba membangun citra sebagai tempat kerja anak muda yang dinamis.

Padahal kalau dipikir-pikir, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan energi.

Beberapa masalah justru membutuhkan seseorang yang pernah gagal berkali-kali, pernah menghadapi krisis, pernah bertemu klien yang menyebalkan, pernah ditinggal atasan mendadak, dan tetap bisa pulang ke rumah tanpa membakar kantor.

Dalam ilmu psikologi organisasi, ada konsep yang disebut tacit knowledge. Sederhananya, ini adalah pengetahuan yang tidak tertulis di SOP, tidak ada di modul pelatihan, dan tidak bisa dipelajari dari video tutorial.

Pengetahuan ini lahir dari pengalaman.

Misalnya kemampuan membaca suasana rapat sebelum konflik pecah. Kemampuan tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Atau kemampuan mengenali bahwa ide yang terlihat brilian sebenarnya pernah dicoba sepuluh tahun lalu dan gagal total.

Masalahnya, pengetahuan semacam ini sering tidak terlihat di CV.

Pegawai Senior Itu Bukan Rem Tangan

Ada stereotip yang cukup populer bahwa pegawai yang lebih tua cenderung menghambat perubahan.

Padahal penelitian tentang age diversity menunjukkan hal yang berbeda. Tim yang terdiri dari berbagai kelompok usia justru cenderung menghasilkan keputusan yang lebih baik karena memiliki perspektif yang lebih beragam.

Logikanya sederhana.

Anak muda biasanya punya keberanian untuk bertanya, “Kenapa tidak kita coba saja?”

Sementara pegawai senior cenderung bertanya, “Kalau dicoba, risiko terburuknya apa?”

Kedua pertanyaan itu sama pentingnya.

Organisasi yang hanya berisi orang-orang pemberani berpotensi menabrak tembok. Sebaliknya, organisasi yang hanya berisi orang-orang hati-hati bisa berhenti berjalan.

Kemajuan biasanya terjadi di tengah-tengah: ketika keberanian bertemu pertimbangan.

Ada yang Lebih Penting daripada Skill

Kita sering membicarakan hard skill dan soft skill, tetapi jarang membicarakan satu hal yang justru makin mahal seiring bertambahnya usia: kebijaksanaan.

Psikolog perkembangan Paul Baltes menyebut kebijaksanaan sebagai kemampuan memahami masalah kompleks dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sekaligus.

Kalau diterjemahkan ke bahasa kantor, ini berarti kemampuan untuk tidak panik.

Ketika target meleset, klien marah, sistem error, dan grup WhatsApp kantor mulai ramai dengan pesan bertanda seru tiga, biasanya ada satu orang yang tetap tenang.

Dan sering kali orang itu bukan yang termuda di ruangan.

Bukan karena mereka lebih pintar.

Mereka hanya sudah pernah melewati situasi serupa sebelumnya.

Deloitte: Multi Generasi dalam Satu Kantor

Deloitte salah satu perusahaan penyedia layanan profesional terbesar di dunia secara terbuka mengakui bahwa tenaga kerja modern kini bisa terdiri dari lima generasi sekaligus. Dalam surveinya, 70% organisasi menyatakan bahwa kemampuan mengelola tenaga kerja multigenerasi menjadi faktor penting bagi kesuksesan bisnis mereka. Namun hanya 10% yang merasa benar-benar siap melakukannya.

Artinya banyak perusahaan sudah sadar pentingnya keberagaman usia, tetapi masih bingung bagaimana memanfaatkannya.

Padahal jawabannya mungkin lebih sederhana dari yang dibayangkan: berhenti menganggap usia sebagai masalah, dan mulai melihatnya sebagai sumber perspektif.

Yang Dibutuhkan Bukan Generasi yang Menang, tapi Generasi yang Mau Bekerja Sama

Kesalahan terbesar kita dalam membicarakan dunia kerja adalah menganggap hubungan antar generasi sebagai sebuah pertandingan. Seolah-olah generasi muda harus terus membuktikan bahwa mereka lebih relevan karena lebih cepat beradaptasi dengan teknologi. Di sisi lain, generasi senior merasa harus mempertahankan bahwa pengalaman selalu lebih penting daripada kemampuan menguasai tren terbaru.

Padahal, keduanya tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama.

Generasi muda membawa kecepatan. Mereka berani mencoba, cepat belajar, dan tidak takut mengubah cara lama. Sementara generasi senior membawa arah. Mereka pernah jatuh, pernah salah mengambil keputusan, pernah menyaksikan sebuah tren datang dengan gegap gempita lalu menghilang tanpa jejak. Pengalaman membuat mereka tahu bahwa tidak semua jalan pintas benar-benar mempersingkat perjalanan.

Mungkin itulah mengapa Ben Whittaker dalam The Intern terasa begitu masuk akal. Ia bukan orang yang paling cepat mengetik, bukan pula yang paling piawai menggunakan teknologi terbaru. Jika produktivitas hanya diukur dari jumlah email yang dikirim atau rapat yang dihadiri, mungkin Ben bahkan tidak akan masuk daftar pegawai terbaik bulan ini.

Namun ia membawa sesuatu yang tidak bisa dibeli melalui proses rekrutmen, pelatihan, atau sertifikasi: perspektif. Ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, kapan sebuah masalah memang perlu segera diselesaikan, dan kapan masalah itu cukup didiamkan semalam agar semua kepala kembali dingin.

Dalam dunia kerja yang semakin terobsesi pada kecepatan, sering kali justru orang seperti Ben yang tahu ke mana arah larinya. Sebab kantor tidak selalu membutuhkan orang yang paling cepat. Kantor membutuhkan orang yang tahu apa yang harus dilakukan ketika semua orang bergerak terlalu cepat.

Barangkali di situlah pesan terbesar The Intern. Film ini bukan sedang mengajak kita bersimpati kepada seorang kakek yang “masih bisa bekerja”. Film ini sedang mengingatkan bahwa perusahaan yang hebat bukanlah perusahaan yang dipenuhi generasi muda, atau sebaliknya, dipertahankan hanya oleh generasi senior. Perusahaan yang hebat adalah perusahaan yang mampu mempertemukan keduanya di meja yang sama, membiarkan energi bertemu pengalaman, keberanian bertemu kebijaksanaan, dan inovasi bertemu perspektif. Karena pada akhirnya, masa depan organisasi tidak dibangun oleh generasi yang saling mengalahkan, melainkan oleh generasi yang bersedia saling melengkapi.