Pelajaran yang Tidak Selalu Terlihat
Jika Anda pernah menonton film How to Make Millions Before Grandma Dies, tentu Anda akan mengingat satu adegan ikonik yang cukup membekas. Seorang cucu mulai memberikan perhatian kepada neneknya, tapi motifnya tidak hanya sekadar kasih sayang. Ada harapan yang lebih transaksional daripada itu.
Film ini sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai keluarga, melainkan mengenai ekspektasi, tanggung jawab, dan hubungan manusia yang sering kali lebih rumit dari yang dapat dilihat.
Menariknya, dinamika tersebut tidak hanya terjadi dalam hubungan antaranggota keluarga, tetapi juga ketika sesuatu yang bernilai hari diteruskan kepada generasi berikutnya. Harapan, tekanan untuk menjaga apa yang sudah dibangun, hingga keinginan untuk membawa perubahan sering kali hadir secara bersamaan. Di titik inilah kisah keluarga dalam film How to Make Millions Before Grandma Dies memberikan nilai reflektif yang relevan terhadap dunia bisnis, terutama bisnis keluarga. Karena sedikit banyak di dunia bisnis, situasinya tidak jauh berbeda.
Sebagian orang mungkin menganggap mewarisi bisnis adalah hal mudah. Di sisi lain, membangun bisnis menjadi cerita rakyat yang terus digadang-gadang sebagai pencapaian yang lebih membanggakan. Padahal, keduanya sama-sama menantang dalam bentuk yang berbeda.
Titik Awal yang Berbeda
Di Indonesia, bisnis keluarga bisa dibilang jadi mayoritas daripada membangun dari nol. Menurut survey PwC Global Family Business Survey, lebih dari 95% perusahaan di Indonesia merupakan bisnis keluarga dan menyumbang sebagian besar aktivitas ekonomi nasional. Secara global, perusahaan keluarga juga diperkirakan berkontribusi sebesar 70-90% terhadap PDB dunia dan menyumbang lebih dari separuh lapangan kerja. Ini artinya, sebagian besar bisnis yang kita lihat dan rasakan hari ini kemungkinan besar dibangun untuk diteruskan.
Namun, ada satu kenyataan yang bagi bisnis ini adalah tantangan dan sering luput untuk dibahas.
Generasi penerus biasanya masuk ke dunia bisnis yang stabil. Mereka menerima pelanggan, sistem, jaringan pemasok, hingga reputasi instan yang pada faktanya telah dibangun selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Tetapi mereka tidak pernah tahu bagaimana itu semua dimulai.
Di sisi lain, pendiri yang membangun bisnis dari nol memahami setiap proses dari sejak hari pertama. Mereka tahu mengapa suatu keputusan diambil karena merekalah yang bertanggung jawab. Dari modal, kepercayaan publik, tim, hingga kredibilitas yang perlu dibentuk melalui pasang surut ombak tantangan. Gambaran ini dapat terlihat pada banyaknya bisnis keluarga di Indonesia. Contoh, perusahaan raksasa Martha Tilaar Group yang dikatakan berhasil mempertahankan eksistensinya lintas generasi dengan tetap menjaga nilai yang dibangun pendirinya. Alih-alih hanya mempertahankan apa yang sudah ada, perusahaan ini terus beradaptasi dengan perubahan zaman dengan berbagai inovasi. Dalam pengembangan produk, Martha Tilaar Group mengadopsi teknologi nano yang memungkinkan bahan aktif terserap lebih cepat ke dalam kulit sehingga memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan formulasi skincare konvensional. Dilihat dari sisi pemasaran, perusahaan juga aktif untuk memperluan jangkauan di berbagai platform e-commerce serta memanfaatkan kolaborasi dengan KOL dan influencer untuk menjangkau konsumen lebih muda.
Contoh ini menunjukkan bahwa mempertahankan warisan bukan berarti mempertahankan semuanya apa adanya. Justru tantangan generasi penerus adalah memahami nilai yang harus dijaga, sekaligus memiliki keberanian untuk memperbarui cara bisnis tersebut untuk terus mengalami pertumbuhan.
Dari kedua hal tersebut, posisi yang dimulai berbeda tapi sama-sama melalui tantangan yang kompleks.
Warisan Tidak Selalu Berarti Kemudahan
Bisakah Anda membayangkan berada di posisi dimana semuanya sudah berjalan dengan baik dan stabil? Anda punya pelanggan, arus kas relatif stabil, nama bisnis sudah dikenal, bahkan hubungan dengan pemasok sudah terjalin.
Padahal, di balik itu semua ada banyak hal yang tidak terlihat.
Ada budaya kerja yang sudah terbentuk jauh sebelum Anda datang. Ada keputusan-keputusan krusial yang kini tidak lagi relevan tapi tetap jadi pilihan hanya karena “dari dulu kami sudah begini”. Bukan tidak mungkin ada pelanggan yang mengeluhkan setiap langkah Anda dengan pendiri terdahulu. Bahkan ada karyawan yang loyalitas emosional lebih kuat kepada kepala terdahulu dibanding terbaru.
Untuk mempertahankan yang ada adalah sebuah tantangan tersendiri. Target untuk mempertahankan sendiri pun seringkali tidak tercapai ketika segalanya sudah stabil sebelum adanya Anda. Tapi, apakah semuanya yang menjadi kebiasaan tidak perlu dipertanyakan? Ini menjadi sebuah pertanyaan dilematis bahwa tidak semua yang diwariskan harus dipertahankan. Pun tidak semua yang lama harus diubah, bukan?
Kisah Inspiratif Pendiri Bisnis = Romantisme Masa Kini
Seringkali kita melihat narasi mengenai pendiri bisnis yang sukses dan romantisme hal tersebut. Diawali dari garasi, modal minim, lalu berkembang hingga berpuluh cabang seluruh negeri. Faktanya, separuh bisnis tidak mampu untuk bertahan setidaknya 5 tahun. Berbagai faktor yang melatarbelakangi lebih daripada persoalan internal, melainkan tidak adanya kebutuhan pasar, masalah arus kas, atau bahkan model bisnis yang belum teruji hingga tidak adanya aksi berkelanjutan.
Membangun bisnis dari nol artinya Anda siap untuk mempelajari berbagai hal baru dalam waktu singkat secara bersamaan.
Meskipun begitu, ada satu keuntungan yang dimiliki oleh pada pendiri ini. Mereka memahami alasan di balik hampir setiap keputusan yang ada di dalam bisnisnya. Mereka tidak perlu melanjutkan atau menerima begitu saja warisan keputusan apapun. Kekurangannya hanya ada pada waktu– rasa percaya pelanggan yang perlu dibangun dalam tiga dekade sulit untuk dipercepat dengan campaign marketing global dalam 3 bulan.
Pelajaran Seumur Hidup Tanpa Modul

Di film How to Make Millions Before Grandma Dies, kita perlu menyepakati adanya perubahan motivasi seiring berjalannya waktu. Ada kepentingan, tapi ada juga sisi yang perlahan menjadi tulus.
Bisnis berjalan seperti itu juga. Mewarisi bisnis bukan mempermudah jalan kesuksesan. Membangun bisnis dari nol juga bukan berarti bisa membangun persona heroik.
Kemampuan yang ingin terus belajar dan beradaptasilah yang menentukan.
Generasi penerus perlu memahami alasan dan faktor mengapa bisnis tersebut bisa bertahan selama puluhan tahun. Sedangkan perintis perlu berkompromi dengan fakta bahwa tidak semua perubahan dan pertumbuhan bisa terlihat dalam kurun waktu yang cukup singkat. Faktanya, ada hal-hal yang memang hanya bisa dibangun melalui konsistensi dan waktu.
Pertanyaannya:
Apa yang Anda pertahankan karena memang bernilai bagi bisnis Anda, dan apa yang sebenarnya yang dipertahankan hanya karena sudah menjadi sebuah kebiasaan?
—
Format percaya bahwa bisnis yang bertahan bukan hanya dibangun dari strategi yang baik, melainkan dari keberanian mengajukan pertanyaan yang jujur. Sering kali, keputusan terbaik datang dari pertanyaan yang tepat.

