Punya Produk Terbesar di Dunia, TVRI Justru Kehilangan Momentum Marketingnya

Ada satu hal yang aneh dari Piala Dunia 2026.

Bukan karena jumlah pesertanya yang membengkak jadi 48 negara. Bukan juga karena pertandingan digelar lintas tiga negara sekaligus. Yang aneh justru terjadi di Indonesia: turnamen sepak bola terbesar di muka bumi sedang berlangsung, tetapi suasananya terasa seperti pertandingan fase grup Piala AFF.

Tidak ada obrolan panas di warung kopi. Tidak ada anak-anak sekolah yang menggunakan jersey negara setelah pulang sekolah. Bahkan linimasa media sosial yang biasanya berubah menjadi arena debat tak berujung antara penggemar Messi dan Ronaldo kini lebih sibuk membahas drama harian selebriti, pertanyaannya sederhana: ke mana perginya demam Piala Dunia?

Dan pertanyaan yang sedikit lebih nakal: apakah TVRI gagal menularkan euforia itu?

Dulu, Piala Dunia Itu Peristiwa. Sekarang, Hanya Konten

Kalau kamu cukup tua untuk mengingat Piala Dunia 2010 atau 2014, kamu mungkin masih ingat bagaimana atmosfernya.

Tiba-tiba semua orang jadi analis sepak bola. Tetangga yang biasanya cuma tahu Persib dan Persija mendadak bisa menjelaskan skema false nine Fabregas. Warung kopi memasang jadwal pertandingan. Bahkan orang yang tidak pernah menyentuh bola sekalipun ikut memilih negara favorit.

Piala Dunia dulu bukan sekadar tontonan. Ia adalah peristiwa sosial.

Hari ini, masalahnya bukan karena sepak bolanya menjadi kurang menarik. Masalahnya adalah perhatian publik sudah pecah menjadi seribu keping.

TikTok bersaing dengan Netflix. Instagram bersaing dengan YouTube. Mobile Legends bersaing dengan semua orang.

Kalau pada 2014 televisi masih menjadi pusat alam semesta, pada 2026 televisi hanyalah salah satu planet kecil yang berusaha bertahan hidup.

TVRI Punya Produk Mewah, Tapi Jualannya Kurang Berisik

Dalam dunia marketing ada istilah sederhana: produk bagus tidak otomatis laku.

Banyak restoran enak bangkrut. Banyak film bagus sepi penonton. Banyak musisi berbakat kalah viral dari orang yang joget lima belas detik.

Masalahnya sering kali bukan pada produknya.

Masalahnya ada pada cara menjualnya.

TVRI sebenarnya mendapatkan barang dagangan yang luar biasa: hak siar Piala Dunia 2026. Secara teori, ini seperti mendapat kesempatan menjual rendang di tengah festival kelaparan.

Tapi entah kenapa, promosi yang muncul justru lebih banyak terdengar seperti surat edaran.

Publik lebih sering mendengar soal OTT yang bermasalah, regulasi nobar, aturan hak siar, larangan penggunaan logo resmi, dan berbagai ketentuan administratif lainnya daripada cerita-cerita yang membuat orang ingin menyalakan televisi.

Padahal tidak ada satu pun orang yang jatuh cinta pada sepak bola karena regulasi.

Orang jatuh cinta pada sepak bola karena drama.

Karena gol menit ke-90.

Karena tangisan pemain yang gagal penalti.

Karena mimpi sebuah negara kecil yang tiba-tiba bisa mengalahkan raksasa dunia.

Sepak bola adalah emosi yang kebetulan dimainkan dengan bola.

Adanya Faktor Lain yang Menjadi Penghambat 

Menurut Novita Haridini selaku anggota DPR RI saat melaksanakan rapat dengan TVRI, RRI, dan LKBN menyebutkan dalam rapat, keberhasilan TVRI memperoleh hak siar seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 perlu diapresiasi karena membuka akses gratis bagi masyarakat Indonesia. Satu sisi hal tersebut belum diimbangi dengan publikasi maksimal yang mampu membangun antusiasme publik secara luas. Selain itu jika dibandingkan kondisi sekarang dengan penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya yang disiarkan grup media swasta. 

Pada masa itu euforia masyarakat sudah terbangun jauh sebelum pertandingan pertama dimulai. Adanya promosi masif yang dilakukan dan kampanye digital yang sampai ke semua kalangan masyarakat. 

Kualitas sinyal TVRI sendiri belum sepenuhnya bisa diakses full oleh masyarakat karena faktor infrastruktur bangunan dan lingkungan juga yang membuat sinyal TVRI yang di dapat itu tidak bisa maksimal.

TVRI Terjebak Menjadi Penjaga Arsip

Di sinilah persoalan yang lebih menarik muncul.

Sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI selama bertahun-tahun dibentuk untuk menjadi institusi yang informatif, edukatif, dan relatif formal.

Masalahnya, Piala Dunia bukan acara seminar nasional.

Piala Dunia membutuhkan kegaduhan.

Membutuhkan meme.

Membutuhkan cuplikan-cuplikan yang membuat orang berkata, “Eh, nanti malam ada pertandingan ya?”

Yang terjadi justru sebaliknya. TVRI tampak lebih sibuk memastikan siaran berjalan rapi daripada memastikan publik merasa terlibat.

Ibarat punya pesta terbesar sekampung, tetapi undangannya ditulis seperti surat pemberitahuan RT.

TVRI Terlalu Sibuk Menyiarkan, Lupa Meramaikan

Kalau boleh sedikit usil, masalah TVRI mungkin bukan pada siarannya, melainkan pada cara mereka mengajak orang datang ke pesta. 

Di era ketika satu cuplikan gol bisa lebih cepat menyebar lewat TikTok daripada lewat siaran berita malam, TVRI justru terlihat kurang agresif bermain di arena tempat perhatian publik sekarang berkumpul. Linimasa media sosial yang seharusnya dipenuhi potongan momen dramatis, konten receh, debat prediksi, atau kolaborasi dengan kreator sepak bola malah terasa biasa-biasa saja. Akibatnya, Piala Dunia gagal menjadi obrolan yang menyelinap ke FYP orang-orang yang bahkan tidak terlalu suka sepak bola. Ceritanya juga tidak jauh berbeda di dunia offline. Sulit menemukan fan zone besar, roadshow komunitas, atau nonton bareng yang cukup masif untuk membuat masyarakat merasa sedang menjadi bagian dari hajatan global. Padahal euforia olahraga tidak lahir hanya dari pertandingan, tetapi dari keramaian yang mengitarinya.

TVRI seolah sudah berhasil menyewa gedung pesta terbesar di dunia, tetapi lupa memasang spanduk, menyebar undangan, dan memutar musik yang cukup keras agar satu kampung tahu bahwa ada pesta besar yang sedang berlangsung.

Tapi TVRI pun Tidak Sepenuhnya Salah

Meski begitu, menyimpulkan bahwa sepinya Piala Dunia adalah kesalahan TVRI sepenuhnya juga terlalu malas secara intelektual.

Ada faktor lain yang lebih besar.

Indonesia tidak bermain di Piala Dunia.

Dan ini penting.

Dalam marketing olahraga, tidak ada promosi yang lebih ampuh daripada keterlibatan emosional.

Lihat saja bagaimana masyarakat Indonesia tiba-tiba hafal nama pemain Timnas U-23 beberapa tahun terakhir. Bukan karena mereka rajin membaca statistik, melainkan karena ada rasa memiliki.

Piala Dunia 2026 tetaplah pesta besar. Hanya saja Indonesia masih menjadi tamu undangan, bukan anggota keluarga yang punya hajatan.

Akibatnya, keterikatan emosional publik otomatis lebih rendah.

Masalah TVRI Mungkin Bukan di Layar, Tapi Strategi Yang Digunakan

Mungkin inilah saatnya TVRI berbenah bahwa hak siar bukanlah garis finis, melainkan garis start, karena ini piala dunia pertama yang kembali di tayangkan TVRI setelah puluhan tahun.

Sebagai stasiun TV yang diberi kepercayaan mendapatkan hak siar piala dunia ini, TVRI bisa memaksimalkan kemitraan Over-The-Top (OTT) resmi seperti MAXstream TV dan Folaplay untuk menjangkau khususnya generasi muda, Selain itu TVRI juga bisa memperluas sinyal terestrial digital (DVB-T2) dengan memperkuat infrastruktur sinyal tersebut diharapkan bisa menjangkau wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Sehingga dengan bermodalkan antena UHF atau Set Top Box (STB), masyarakat bisa menikmati pertandingan secara gratis dengan kualitas jernih.

Selain itu di era sekarang perhatian publik diperebutkan oleh ribuan konten setiap menit, memenangkan pertandingan di layar saja tidak cukup, yang lebih penting adalah memenangkan percakapan di luar layar. Dibutuhkan pemahaman dan sosialisasi mendalam tentang perilaku audiens, peta percakapan digital, hingga kemampuan menghidupkan narasi di berbagai platform sosial yang dikonsumsi generasi hari ini. Dan pekerjaan semacam itu tidak selalu bisa diselesaikan sendirian. Kolaborasi dengan mitra yang memiliki kekuatan riset audiens, social listening, serta strategi multiplatform seperti Format bisa menjadi salah satu jalan untuk mengubah siaran menjadi perbincangan, dan pertandingan menjadi fenomena. 

Sebab pada akhirnya, Piala Dunia tidak hanya membutuhkan pemancar yang kuat, tetapi juga cerita yang mampu berlari lebih cepat daripada algoritma.